Definisi dan Tujuan Budidaya Laut

Pembudidayaan ikan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 12/2007 tentang Perizinan Usaha Pembudidayaan Ikan, dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2 tahun 2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang baik adalah “kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/ atau mengawetkannya.”

Istilah budidaya perairan (akuakultur) berasala dari bahasa Inggris “Aquaculture” yang berarti pengusahaan budidaya organisme akuatik termasuk ikan, moluska, krustase dan tumbuhan akuatik. Kegiatan budidaya menyiratkan semacam intervensi dalam proses pemeliharaan untuk meningkatkan produksi, seperti penebaran yang teratur, pemberian pakan, perlindungan terhadap pemangsa (predator), pencegahan terhadap serangan penyakit dan sebagainya (Pusat Riset Perikanan Budidaya dalam Hermanto, 2007).

Japanese Resourse Council , Science and Technolgy Agency memberikan pengertian budidaya sebagai sebuah proses industri untuk meingkatkan biota (organisme) perairan sampai tingkat produksi secara komersial dalam lingkungan perairan yang dibatasi, melalui pengendalian faktor lingkungan dan megatur siklus hidupo organisme secara positif dan harus dianggap sebagai industri perikanan yang independen seperti sekarang (Jhingran, 2007)

Stickney (2005) menyebutkan budidaya perairan sebagai kegiatan pemeliharaan organisme perairan di dalam kondisi atau keadaan lingkungan yang dikendalikan atau semi dikendalikan.

Menurut Effendi dan Mulyadi (2007) dan Jhingran (1987) tujuan budidaya laut diantaranya adalah:

  • Memproduksi pangan
  • Melakukan rekreasi
  • Menyediakan ikan umpan
  • Memproduksi ikan hias
  • Memperbaiki stok biota akuatik di alam (stock enhancement)
  • Memproduksi bahan baku industri
  • Mendaur ulang bahan organik

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Irzal, dan Mulyadi (2007). Budidaya Perikanan. Buku Mareri Pokok MMP15201/3sks/Modul 1-19. Tangerang Selatan : Penerbit Universitas Terbuka.

Hermanto (2007). Pengelolaan Budidaya Tambak Berwawasan Lingkungan. Dalam http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/30/pengelolaan-budidaya-tambak-berwawasan-lingkungan/.

Jhingran, V.G. (1987). Introduction to Aquaculture: Establishment of African Regional Aquaculture Centre. Series title: Project reports (not in a Series) – No. 11. 1987, p.40.

Stickney, R.R. (2005). Aquaculture: An Introductory Text. CABI Publishsing.

Apa Perbedaan Snorkeling & Diving ?

Untuk teman-teman yang belum familiar, mungkin ingin mengetahui apa perbedaan antara snorkeling dan diving, padahal dua-duanya sama sama menggunakan masker, snorkel, dan fin dalam kegiatannya.

SNORKELING

Snorkeling adalah aktivitas berenang di permukaan air dan melihat apa yang ada di bawah permukaan air. Alat yang digunakan adalah masker, snorkel, dan fin.

https://i0.wp.com/adventuresportskc.com/wp-content/uploads/2013/04/snorkeling3.jpg

Snorkeling

Jadi, pada dasarnya snorkeling hanya dilakukan di permukaan saja. Karena menggunakan peralatan yang sangat standard, snorkeling hanya dapat dilakukan di siang hari karena sangat mengandalkan sinar matahari.

Baca lebih lanjut

Pengaruh ENSO di Indonesia

  • Dampak El-nino Terhadap Curah Hujan

Dampak El-Nino terhadap curah hujan tergantung pada besarnya intensitas El-Nino itu sendiri (kuat, sedang, lemah) dan pengaruh lokal wilayah tersebut. Oleh karena itu, bisa saja dampak El-Nino sangat besar di suatu daerah sementara di daerah lain sedang, lemah atau bahkan tidak ada (Irianto dan Sumaini, 2001). Wilayah pengunungan umumnya lebih peka terhadap El-Nino dicirikan dengan penurunan curah hujan tahunan lebih besar 30%, sementara wilayah pesisir barat dan timur penurunan lebih kecil dari 15%.

Yoshito, dkk., (1999) menunjukkan dampak El-Nino pada curah hujan di Indonesia relatif tinggi pada musim kemarau dibandingkan musim hujan. Pada negatif SOI atau kejadian El-Nino, curah hujan dibawah normal sekitar 93% untuk musim kemarau dan musim hujan persentasenya hanya 38%.

Irawan (2002), mengilustrasikan dampak El-Nino terhadap curah hujan dengan melakukan analisis statistik pada curah hujan yang terjadi pada tahun 1982 dan 1997, dikarenakan dua kejadian El-Nino tersebut merupakan terbesar selama 25 bulan terakhir. Data berasal dari curah hujan bulanan antara bulan 1970 – 1997 pada setiap provinsi. Perhitungan menunjukkan penurunan curah hujan di Indonesia tinggi pada El-Nino 1997 (-39,9%) dibandingkan El-Nino 1982 (-23,7%). Ini berdasarkan hasil observasi di 19 dari 24 provinsi kecuali untuk Aceh, Sumatera Utara, Bali, NTT dan Sulawesi Tengah. Hal ni menunjukkan dampak El-Nino terhadap curah hujan tahun 1997 lebih besar dibandingkan kejadian El-Nino pada tahun 1992.

Baca lebih lanjut

El Niño–Southern Oscillation (ENSO)

El Niño–Southern Oscillation (ENSO) adalah gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai Barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya. Gejala ini lebih umum dikenal di kalangan awam dengan nama El Niño (bahasa Spanyol, dibaca: “El Ninyo” yang berarti “anak laki-laki kecil”). Gejala penyimpangan di tempat yang sama tetapi berupa penurunan suhu dikenal sebagai La Niña (dibaca “La Ninya“). Istilah ini pada mulanya digunakan untuk menamakan arus laut hangat yang kadang-kadang mengalir dari Utara ke Selatan antara pelabuhan Paita dan Pacasmayo di daerah Peru yang terjadi pada bulan Desember. Kejadian ini kemudian semakin sering muncul yaitu setiap tiga hingga tujuh tahun serta dapat memengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun.

El nino merupakan kondisi yang muncul akibat adanya interaksi antara atmosfer dengan samudera di bawah pengaruh kontrol matahari. Suhu muka laut di sekitar pasifik tengah dan timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El nino tidak dapata terlihat. Saat terjadi El nino Angin Pasat Timuran melemah, artinya angin berbalik arah ke Barat dan mendorong wilayah potensi hujan ke Barat. Hal ini menyebabkan perubahan pola cuaca. Daerah potensi hujan meliputi wilayah Perairan Pasifik Tengah dan Timur dan Amerika Tengah. Masing-masing kejadian El Nino adalah unik dalam hal kekuatannya sebagaimana dampaknya pada pola turunnya hujan maupun panjang durasinya.

Berdasar intensitasnya El Nino dikategorikan sebagai :

  1. El Nino Lemah (Weak El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +0.5º C s/d +1,0º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  2. El Nino sedang (Moderate El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +1,1º C s/d 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  3. El Nino kuat (Strong El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator > 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

Karena fluktuasi dari tekanan udara dan pola angin di Selatan Pasifik yang menyertai El Niño, fenomena ini dikenal dengan nama El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Gejala El Niño tidak selalu diikuti dengan Southern Oscillation, dan tanpa kombinasi keduanya efek global tidak terjadi. El nino terjadi karena pemanasan di ekuator samudra pasifik dan pemanasan global juga menjadi salah satu unsurnya.

Selain memberikan kerugian, el nino juga memberikan keuntungan pada Indonesia. Contohnya, ikan tuna di Pasifik bergerak ketimur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk ke selatan Indonesia. Hal itu karena perairan di timur samudera ini mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Hal ini membuat indonesia mendapat banyak ikan tuna.

Baca lebih lanjut

Jenis Rehabilitasi Terumbu Karang

1. Transplantasi Terumbu Karang

Salah satu cara dalam merehabilitasi terumbu karang yang sudah rusak adalah dengan melakukan transplantasi terumbu karang. Transplantasi karang merupakan salah satu upaya rehabilitasi terumbu karang yang semakin terdegradasi melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru. Teknik ini semakin populer baik di pihak pemerintah maupun di kalangan masyarakat.

Transplantasi karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu :

  • Untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak
  • Untuk pemanfaatan terumbu karang secara lestari (perdagangan karang hias)
  • Untuk perluasan terumbu karang
  • Untuk tujuan pariwisata
  • Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan status terumbu karang
  • Untuk tujuan perikanan
  • Terumbu karang buatan
  • Untuk tujuan penelitian.

Tercatat hampir seluruh dinas perikanan kota maupun provinsi di Indonesia yang memiliki kawasan terumbu karang dan mulai rusak mempunyai program rehabilitasi karang melalui teknik transplantasi karang.

https://pratapapa81.files.wordpress.com/2010/03/img_1233_resize.jpg

Transplantasi Terumbu Karang

Baca lebih lanjut

Jenis, Manfaat, dan Kerusakan Terumbu Karang

Karang tergolong dalam dalam jenis mahluk hidup (hewan) yaitu sebagai individu organisme atau komponen dari masyarakat hewan. Terumbu karang (coral reefs) sebagai suatu ekosistem termasuk dalam organisme-organisme karang. Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Coridaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae dan sedikit tambahan alga berkapur serta organisme lain yang menyereksi kalsium karbonat. Karang hermatipik (Hermatypic corals) yang bersimbiosis dengan alga melaksanakan fotosintesis, sehingga peranan cahaya sinar matahari penting sekali bagi Hermatypic corals.

https://tentangoseanografi.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/08/257c1-terumbu-karang1.jpg

Terumbu Karang

Baca lebih lanjut

APLIKASI SATELIT NOAA DALAM BIDANG OSEANOGRAFI

Satelit NOAA beberapa fungsi yang berhubungan untuk pengamatan cuaca , lingkungan , dan juga dalam bidang oseanografi. Aplikasi satelit NOAA dalam bidang oseanografi terutama dalam pengamat suhu permukaan laut (sea surface temperature) dengan menggunakan sensor termal AVHR (Advance Very High Resolution Radiometer Model ) yang akan mendeteksi energi panas yang diemisi oleh permukaan laut sehingga suhu permukaan laut dapat diukur dari satelit.

Walaupun aplikasi utama dari satelit NOAA dalam bidang oseanografi hanya bisa melihat suhu permukaan laut , data dan peta suhu permukaan laut  yang dihasilkan dari satelit dapat dimanfaatkan untuk keperluan seperti pengamatan tren kenaikan muka air laut yang merupakan  dampak dari pemanasan global, melihat prediksi fenomena El Nino dan La Nina, melihat perkiraan daerah penangkapan ikan berdasarkan distribusi suhu permukaan laut yang dapat menjadi acuan prediksi sebagai habitat ikan.

Berikut ini akan dijelaskan secara lebih terperinci mengenai aplikasi satelit NOAA dalam bidang oseanografi  yang merupakan turunan dari pemanfaatan data suhu permukaan laut yang didapatkan :

Baca lebih lanjut

Ocean Conveyor Belt

1. DEFINISI

Istilah conveyor belt merupakan istilah global untuk siklus thermohaline yang terjadi di lautan yang menggambarkan gerakan arus dingin dan asin di lapisan dalam dan air yang hangat di permukaan .  Sirkulasi thermohaline dapat didefinisikan sebagai sirkulasi atau gerakan massa air yang timbul akibat adanya perbedaan densitas air laut dalam arah vertikal.

https://i0.wp.com/www.grida.no/climate/vital/graphics/large/32.jpg

Jalur sirkulasi thermohaline

Baca lebih lanjut

Apa Itu Oseanografi?

Pada dasarnya oseanografi dibagi ke beberapa cabang kelimuan seperti Oseanografi Fisis, Oseanografi Kimia, Oseanografi Biologi, dan Oseanografi Geologi. Di jurusan yang saya ikuti, ilmu yang dipelajari lebih mengarah ke oseanografi fisis.

Dari apa yang saya pelajari selama masa perkuliahan, intinya Oseanografi adalah imu yang mempelajari karakteristik laut, diantaranya adalah Pasang Surut Laut, Arus Laut, dan Gelombang Laut yang dijelaskan dengan menggunakan persamaan matematis. Tapi saat kuliah, tidak melulu bergelut dengan persamaan matematis. Pada post selanjutnya, akan saya jelaskan mata kuliah yang saya ambil pada saat kuliah dari semester 1 sampai semester 8.

Salam Kenal

Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh

Semoga pembaca blog ini dalam keadaaan sehat dimanapun pembaca berada.

Perkenalkan, saya adalah salah satu alumni mahasiswa Oseanografi dari Institut Teknologi Bandung. Tujuan saya membuat blog ini adalah ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan pada masa perkuliahan mengenai oseanografi dan juga hal-hal yang saya pelajari mengenai laut secara umum. Jadi, tulisan saya masih membutuhkan banyak koreksi karena yang saya tulis di sini kebanyakan adalah ilmu atau hal-hal yang saya temui hanya di lingkungan kampus saya. Namun walaupun begitu, semoga blog ini tetap bermanfaat untuk teman-teman yang tertarik untuk mengenal oseanografi lebih jauh ataupun untuk yang ingin masuk kuliah di jurusan oseanografi.

Apabila ada teman-teman yang ingin mengkopi tulisan di blog ini saya persilakan bebas untuk mengkopi, dan apabila bisa tolong web address dari blog ini dicantumkan agar lebih tersebar ke orang lain dan semoga lebih memberi banyak manfaat (Aamiin).

Wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh.